Thursday, June 5, 2014

Masih Ingatkah Kalian..?

Palembang, 5 Juni 2014.

Memasuki musim kampanye pemilu presiden, mulai banyak bertebaran di mana-mana. Dari pasangan dengan nomor urut 1 hingga pasangan nomor urut 2. Periode kali ini, calon hanya ada 2. Entah gimana periode sebelumnya, gue belom ngalamin karena ini kali pertama gue milih presiden.

Saturday, April 19, 2014

Happy Birthday..!

Palembang, 19 April 2014.

Ya. Kalian bertanya-tanya. Siapa yg ulang tahun. Bukan gue, juga bukan gebetan gue. Melainkan BLOG GUE.

Ya. Ini adalah hari jadi blog gue yg ke-2. Entah pastinya kapan, tapi gue memutuskan dihitung dari postingan pertama gue yg berjudul Overture dibuat, yakni tanggal 19 April 2012.

Gak nyangka udah 2 tahun gue ikutan dunia blogging. Dari artikel pertama, sampe sekarang, artikel ke empat puluh sekian. Dan tetap blog gue sepi viewers. Hahaha.

Monday, April 14, 2014

Bridge Across Forever

Ada sebuah jembatan yang terbuat dari cahaya, yang menghubungkan antara hidup dan mati, di mana ada bayangan berjalan di bawah sinar matahari dan cinta yang kandas berlari. Suatu hari, berdirilah seorang anak dan malaikat pada masing-masing sisi sungai ajaib yang tidak ada orang berani melewatinya. Dan ketika mereka melewatinya, permukaan air meninggi berusaha menghalangi mereka. Merekapun memalingkan mata mereka. Dan ketika air sungai itu turun, mereka membuat jembatan, yg menghubungkan hari ini dan hari esok.

Aku memiliki mimpi yang sama, tidak dalam hitam dan putih. Yang tidak pernah berakhir, yang selalu diawali di padang kejauhan dengan angin magenta, dan cintaku berdiri di seberang sungai ajaib yang tidak pernah dilewati orang. Mungkin suatu hari ketika jiwa kita terangkat dengan mata yang bersinar-sinar.

Kita akan bertemu kembali suatu hari di jembatan itu. Aku tau kita akan menemukan cara ke sana. Antara sekarang dan hari esok, terhubungkan oleh sebuah jembatan. Dan kita akan menemukan caranya ke sana.

========================

There's a bridge made of light that crosses between death and life, where shadows walk in the sun and desperate lovers run. One day a child and an angel stood on either side of a magic river that there was no crossing. But as they tried, the water began to rise, then they raised their eyes. And as the river fell away, they built a bridge across forever between tomorrow and today. There is a bridge across forever.

I've had this dream all my life that doesn't live in black and white. It has no end, it just begins in distant sands and magenta winds, and my love she is standing by the side of a magic river that there is no crossing. Maybe someday when our spirits begins to rise and light fills our eyes.

We will meet again someday on the bridge across forever. I know that we will find our way to the bridge across forever. Between tomorrow and today, there is a bridge across forever. I know that we will find our way to the bridge across forever.

Tuesday, April 1, 2014

Malselan (Malem Selasa'an) a'la Laponta

Palembang, 1 April 2014.

Sesuai judul, teman sejati adalah segalanya (???). Cuman teman sejati yang bisa bikin kamu lupa diri. Well, dalam artian positif.

Oke. Ceritanya begini. Kemaren (31 Maret 2014), seperti biasa, Kuartet Laponta keluar malam. Tujuan kali ini adalah Palembang Square, dengan pengundang si Ridho. Disuruh selepas maghrib di tempat, jam setengah 9 kurang baru tiba di tujuan. Biasa, jam kolor. Oke. singkat cerita, di situ kita makan sampe jam sepuluh kurang.

Setelah makan, gue baru inget kalo kunci motor ketinggalan di motor. Bingsal..? Jelas. Mau bilang apa gue ke ortu kalo motor gue ilang..? Kunci ketinggalan..? Untungnya kunci gue sempat diamankan oleh petugas setempat, jadi motor gue gak jadi ilang.

Di sini kegilaan bermula. Dengan uang pas-pasan, kita berempat nekat berangkat ke Dunkin' Donuts di bilangan Demang Lebar Daun. Dengan modal Rp 10.000 tiap orang, didapatlah segelas iced coffee. Tanpa malu, naik ke atas, duduk di bangku sofa, dan main kartu. Ya, kartu, kartu remi tepatnya. Entah apa yang sempat terpikir oleh para pengunjung Dunkin' Donuts yg lain begitu melihat kami datang dengan 1gelas iced coffee yang diminum berempat. Well, rogoh-rogoh kantong, gue nemu another ten thousands rupiahs. Dikumpulin, dapatlah IDR 33,000. Langsung pesan iced lemon tea 2. Lumayan. Hehehe.

Di sini Ridho mulai bercerita tentang kepindahan tugasnya ke daerah Bangko, Jambi. Ya, itulah resiko bekerja di instansi pemerintahan. Kita harus siap ditempatkan di mana saja. So long, buddy. We're gonna miss ya. Terlepas dari ini April Mop atau bukan, yang jelas dia bilang begitu.

Malam itu, seperti malam biasa ketika kami berkumpul. Dengan duit seadanya, yang bahkan bisa dibilang minim, kami berhasil membuat malam terasa begitu meriah. Hanya dengan 3 gelas minuman, 4 orang sahabat menghiasi gelapnya malam dengan tawa. Ya, inilah kami. Kami tidak mempermasalahkan uang, bukan berarti kami kaya, tetapi dengan uang seadanya kami bisa membuat sesuatu terasa begitu mewah.

Dan memang kami pantang pulang sebelum hari berganti. Tepat pukul 00.00 (1 April 2014) kami turun dari lantai atas Dunkin' Donuts, mampir sebentar ke toilet, dan sempat bercanda di dalam toilet. Dan kemudian menuju parkiran motor. Sempat berpamitan sebentar sama Ridho, dan langsung pulang karena memang kondisi gue udah ngantuk parah dan mesti ngerjain tugas pagi-pagi nanti. So, and off we go. Safe and sound.

Sekian tahun gue temenan sama mereka yang gue sebut Laponta family, meski pisah kuliah, gue salut karena masih bisa solid. Setiap ketemu, serasa gak ada yg berubah. Ada yg berubah, tapi gak banyak. Satu lagi, dengan dana minim, kita masih bisa tertawa lepas. Modal air mineral gelas, dan lilin sebatang, serta kartu 2 pak, kita masih bisa berbagi kebahagiaan.

Tuesday, February 25, 2014

Dream Theater..? Why Not..?

Oke. Kali ini gue mau share ke kalian kenapa gue suka banget sama Dream Theater.

Awalnya, gue itu penggemar Bon Jovi. Semi fanatik lah, karena gue belom sampe koleksi pernak-pernik berbau Bon Jovi. Dan di mindset gue tertanam kalau band paling bagus itu Bon Jovi. Dan gue tambah kagum sama tuh band pas baca postingan kalo Richie Sambora nolak buat ikut tur G3 (buat gitaris, pasti tau G3, buat yg gak tau bisa klik di sini). Di saat itu, gue udah tau Dream Theater, gue tau mereka band legenda di mana semua personilnya itu profesor di bidangnya. Cuman gue gak tau lagu-lagunya apa. Dan gue menganggap Dream Theater itu band aliran keras sebangsa black metal atau death metal gitu. Dan gara-gara itu gue menutup telinga buat mereka.

Pernah suatu saat gue iseng-iseng lagi pengen dengerin lagu-lagu artis lain seperti Foo Fighters, Rush, dll. Iseng download compilation Dream Theater yg The Greatest Hit (...And 21 Other Pretty Cool Songs). Gue play yang disc 2, Light Side. Di situ gue kaget, mereka gak seperti yang gue bayangkan. Lagu-lagu ballad khas Dream Theater, gampang diterima, terdengar simpel namun tetap dengan khas kerumitan mereka. Dan dengan deg-degan plus penasaran, gue denger yang disc 1, Dark Side. Semakin terkesima. Well, itulah fall in love at the first hearing.

Bagi kebanyakan orang, mungkin sulit menerima musik jenis ini. Pertama denger ya mungkin memang terkesan urakan, gedumbrengan, dll. Tapi coba deh, luangkan waktu untuk mendengarkan dengan seksama, take time to listen, not just hearing.

Dan ini beberapa alasan gue suka sama lagu-lagu mereka:

Lirik
Dari segi lirik, siapa sangka band beraliran progressive metal ini punya lirik yang bisa bikin kita tercengang..? Yang kita tau, band-band metal liriknya amburadul, kasar, dll. Tapi Dream Theater jauh dari kesan itu. Liriknya rapi, dan bahkan bisa dibilang puitis.

"Tell me, remind me, chasing water racing from the sky. Always beside me, taste the memory running from my eyes. Nervous flashlights scan my dreams, liquid shadows silence their screams. I smile at the moon chasing water from the sky. I argue with the cloud stealing beauty from my eyes" (Under A Glass Moon), atau

"I need to live light like some people never will, so find me kindness, find me beauty, find me truth." (Learning To Live).

Skill
Kayak yang gue bilang, mereka adalah profesor di bidang masing-masing. John Petrucci, John Myung, Jordan Rudess, James LaBrie, Mike Mangini, Mike Portnoy, Kevin Moore, dan Derek Sherinian.

Gak bisa dijelasin satu per satu, dengarkan bagaimana permainan mereka mempengaruhi suasana lagu. The Great Debate dan Blind Faith contohnya. Selama lagu tersebut, kita dihibur dengan suara-suara yang gak biasa dalam sebuah lagu. Namun tetap menakjubkan.

Teknik Pengemasan Lagu
Detil gak mereka tinggalkan begitu saja. Sebagai band legendaris, mereka sangat memperhatikan detail. Di dalam lagu-lagu mereka sering kali terselip lagu-lagu mereka yang lain, entah itu lirik, nada, dsb. Pada lagu Learning To Live contohnya, ada bagian lagu Wait For Sleep di bagian solonya. Atau kalo mau bener-bener nyari, ada banyak di album Awake dan Octavarium.

Terus, fading kiri dan kanan juga bisa dinikmati jika menggunakan stereo speaker. Contoh: The Great Debate. Bagian pertama yg pro, suara terdengar dari speaker sebelah kanan, sedangkan bagian kontra yg kedua terdengar dari kiri.

Feeling dan Durasi
Soal durasi, 10 menit sudah biasa buat mereka. Meski ada beberapa lagu mereka yang juga memiliki durasi standar lagu-lagu band reguler (3-6 menit). Tapi, buat mereka 6 menit itu bisa berarti intro. Lagu terpanjang mereka berdurasi 42 menit, judulnya Six Degrees of Inner Turbulence. Menceritakan tentang beberapa jenis kelainan mental. Atau Octavarium dan A Change of Seasons yg berdurasi 24 menit.

Membosankan..? Justru enggak. Dalam 24 atau 42 menit itu mereka mengemas musik sedemikian mungkin sehingga pendengar tidak merasa bosan. Lagu dibagi mejadi 8 part pada Six Degress (Overture, About To Crash, War Inside My Head, The Test That Stumped Them All, Goodnight Kiss, Solitary Shell, About To Crash (Reprise), dan Losing time/Grand Finale), dan di setiap part, suasana musik berbeda. Pergeseran suasana juga dilakukan dengan sempurna sehingga batas setiap part hampir tidak dapat diketahui.

Berikut adalah beberapa lagu yang worth to hear:
  1. The Spirit Carries On
  2. Goodnight Kiss
  3. Solitary Shell
  4. I Walk Beside You
  5. The Great Debate
  6. Blind Faith
  7. Under A Glass Moon
  8. Learning To Live
  9. Surrounded
  10. Metropolis Pt.1
  11. Strange Deja Vu
  12. Anna Lee
  13. Trials of Tears
  14. Finally Free
  15. Twelve Step Suite (The Glass Prison, This Dying Soul, The Root of All Evil, Repentance, dan The Shattered Fortress)
  16. The Count of Tuscany
  17. The Looking Glass
  18. Forsaken
  19. Constant Motion
  20. Prophet of Wars

Saturday, February 22, 2014

Rokok... Haruskah Hilang dari Masyarakat..?

Well, buat dipahami sebelumnya, artikel ini gue bikin dari sudut pandang gue sebagai non perokok dan mahasiswa ekonomi, dengan ilmu ekonomi yang gue dapetin seadanya pas kuliah ekonomi mikro dan makro. Dan di sini gue bukan berpihak kepada perokok, atau gue anti non perokok meski gue juga non perokok. Baca aja deh pokoknya. Kalo gak mau dibaca juga silahkan. :)
Buat yang pemikrannya pendek, silahkan menutup tab ini, atau memilih artikel lain di sini

"Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin" pastilah terdengar familiar di telinga kita.

Ya, tulisan itu sudah ada pada setiap bungkus rokok entah sejak kapan gue belom pernah menelaah sejauh itu. Tapi yang pasti dari gue SD udah ada.

Atau yang baru-baru ini, "Merokok Membunuhmu"

Tulisan-tulisan tersebut dibuat sebagai himbauan untuk para perokok agar menyadari bahwa perbuatannya dapat merusak kesehatan mereka dan segera menghentikan atau mengurangi perbuatan merokok. Kenyataan..?

Pernah baca postingan lucu di luar, ada 2 orang, perokok dan non perokok. Intinya si non perokok ceramah ke perokok kalo dia gak merokok, dia bisa beli Ferrari dari duit rokok itu. Dan si perokok pun balik nanya ke non perokok, "Apa anda merokok..?" / "Tidak" jawab si non perokok / "Lalu, mana mobil Ferrari anda..?" / "..." nonperokok pun terdiam.

Oke. Sekarang kita liat, sponsor sepak bola..? Sponsor bulu tangkis..? Dan lain-lain... Kalian tau itu apa..? Rokok. Di setiap acara pertandingan sepak bola atau bulu tangkis, jatah iklan rokok lebih banyak, karena memang mereka memberikan sponsor yang besar, yang paling besar porsinya. Apa jadinya kalau perokok menurun drastis..? Bisa jadi nantinya gak ada pertandingan bola.

Tau apa itu cukai..? Cukai itu pungutan pemerintah yang bertujuan untuk membatasi peredaran barang tertentu. Sederhananya gitu. Ada 2 jenis cukai yang ane tau di Indonesia, cukai tembakau dan cukai alkohol. Penyumbang pendapatan terbanyak dari cukai rokok. Apa akibatnya kalau perusahaan rokok gulung tikar..? Pendapatan menurun.

Jika perusahaan rokok gulung tikar, berapa banyak petani tembakau yang merugi..? Jika proses pelintingan masih tradisionil, berapa tenaga pelinting yang di PHK dan menjadi pengangguran..? Apa yang terjadi jika pengangguran meningkat..?

Perusahaan rokok gulung tikar, siapa sponsor utama acara pertamdingan sepak bola..? Nah lho.

Dan juga tidak mudah menyuruh petani tembakau untuk menani tanaman lainnya.

Pendek kata, akan terjadi banyak dampak samping jika rokok penggunanya diturunkan secara drastis. Terutama dari segi sosial dan ekonomi.

Lantas, bagaimana dengan perokok pasif yang katanya lebih parah terkena asap dari perokok aktif..?
Temen gue pernah berkata "Perokok pasif lebih rentan terkena kanker paru-paru daripada perokok pasif..? Jadilah perokok aktif." Ya itu cuman guyonan dia. Jangan ditanggapi. Jadi..? Menghindarlah. Kita memiliki hak untuk menghirup udara bersih, dan dia juga berhak untuk menikmati rokoknya. Menghindarlah, dengan demikian, kita tetap mendapat udara bersih, dan tidak mengurangi hak dia untuk merokok.

Merokok dapat menyebabkan kanker paru-paru. Bener. Tapi kanker paru-paru gak cuman dari rokok lho. Debu dari spidol whiteboard juga bisa. Pernah nonton, ada yang gak pernah merokok, tapi kena kanker paru-paru.

Oke. Non perokok mulai panas. Gue tanya lagi, sponsor bola apa..? Rokok kan..? Udah, jangan ribut... Toh mereka juga udah tau resiko mereka ngerokok. Terus, mana Ferrari kalian kalo gak merokok..?

Well. Segini dulu. Mungkin banyak yg panas, atau banyak yg beranggapan kalo gue perokok. Well, gue BUKAN PEROKOK, dan gue gak mendukung perokok. Gue pernah sekali nyoba ngerokok, depan bokap gue, dan gue batuk-batuk. Gue pro perokok..? Nope. Gue nyingkir kalo ada yg merokok, cuman gue gak berkoar-koar merokok itu merusak kesehatan. Sudah ditulis produsen rokok kok di kotaknya. Biarlah itu menjadi resiko perokok.

Lantas kenapa artikel ini pro perokok..? Gue cuman gak demen liat iklan "Merokok Membunuhmu". Itu gue anggap tidak menghormati hak perokok. Dan gue juga mau ingetin, kalo kontribusi perusahaan rokok itu besar dalam kehidupan sehari-hari.

So, kembali ke masing-masing pembaca aja. Ini opini gue. Kalian beropini lain, silahkan. Saya tidak melarang.

Viewer's Choice: My Point of View

Artikel gue kali ini mau bahas tentang fenomena pertelevisian Indonesia. Artikel ini mungkin akan gue bahas dari sudut pandang gue sebagai mahasiswa ekonomi yang kata teman-teman gue memiliki pemikiran seorang psikolog (bukan psikopat) dan sosiolog. Entah gimana itu maksudnya.

Oke. Kita mulai aja.

Banyak acara-acara televisi kita yang memiliki rating yang tinggi, namun mendapat banyak kecaman. Tidak usah gue sebutin satu per satu karena kita semua udah tau, dan gue juga takut kena tuntut pencemaran nama baik.

Salah satu jenis acaranya bertipe entah sitcom atau bukan. Yang pasti banyak penonton, sedangkan acara yang ditampilkan lawak. Ada yang menggunakan gabus sbg properti, ada yang khas dengan joget-joget, ada yang khas dengan kasus pelecehan nama baik, ada yang khas dengan lipsync.. Oke, cukup.

Ada temen yang nyeletuk, "Tuh acara kayak gitu kok ada mulu, sedangkan acara-acara ilmiah hampir gak ada. Ini stasiunnya gimana sih. Gak tau yang bagus untuk rakyat"

Ups. Jangan langsung menyalahkan stasiun tv. Lantas..? Masyarakat..? Simak opini gue.

Pertama
Tipikal masyarakat Indonesia itu pekerja keras, bekerja dari pagi sampai malam. Berangkat pagi, pulang malam. Ada yang menempuh jarak sekian puluh kilometer pulang pergi ke tempat kerja. Jika mereka pulang, tentu mereka lelah, bukan..? Dengan beban pekerjaan di kepala mereka, mereka jelas enggan mengisi kepala mereka kembali dengan tontonan bermutu macam Discovery Channel atau National Geographic, atau tayangan dokumenter lainnya jika mereka tidak memiliki televisi kabel. Mereka ingin acara yang bisa membuat mereka melupakan beban kerja mereka dan melepaskan kejenuhan. Dengan kata lain, mereka ingin hiburan.

Pernah mengamati kalo acara televisi dari jam 6 sore sampai 9 atau 10 malam isinya acara begituan..? Ya itu karena itu jam-jam pulang kantor. Jam-jam sang tulang punggung keluarga tiba di rumah.

Di sini berlakulah hukum permintaan dan penawaran. Dengan kata lain, masyarakat meminta program televisi yang bisa menghibur, bagaimana jenisnya. Terlebih yang bekerja adalah kaum lelaki. Ini menjadi masuk akal ketika isi tayangan tersebut diisi wanita-wanita cantik berbaju ketat dan minim. Itu bisa membuat segar. Ya, gue bilang terang-terangan. Daripada pulang kerja, lelah, marah-marah di rumah.

Kedua
Masyarakat Indonesia lebih senang untuk tidak berpikir. Gue inget jaman-jaman televisi nasional muter filem dokumenter binatang, iklannya dikit, gak sebanyak acara sinetron atau lawak. Semakin sedikit yang menonton, semakin sedikit perusahaan memasang iklan pada jam tayang acara tersebut.
Tapi gue salut ada beberapa stasiun televisi nasional yang masih bisa memberi program bermutu.

Kesimpulan
Ada permintaan untuk program hiburan. Itulah mengapa menjamur program-program hiburan di Indonesia. Dari yang bermutu sampai yang kurang bermutu (bukan tidak bermutu). Sehingga program hiburan tersebut seolah-olah membentuk pasar sendiri. Dan setiap stasiun bersaing untuk mendapatkan viewer's terbanyak agar mendapat banyak pemasukan dari iklan dengan membuat berbagai macam acara hiburan.

Kalo penulisnya gimana..? GUe..? Kalo gue sih kadang-kadang gue nonton. Tapi gue lebih suka nonton Cartoon Network, atau HBO, atau Fox Movies, atau Nat Geo Channel. Jujur, gue jarang buka stasiun nasional kecuali pagi-pagi jam 5 buat nemenin gue sarapan. Itu pun Spongebob. Selesai sarapan ya gue matiin tv, ke kamar lagi beres-beres kuliah.

So, haruskah masyarakat yang disalahkan atas banyaknya program hiburan yang tidak bermutu..? Pendapat saya kembalikan kepada pembaca. :)

This House Is Not For Sale Review: II. Track by Track (Reg)

Jakarta, 18 Mei 2017 Jarak antara Part satu  dan Part dua lumayan jauh. Yaaaaa.... gimana lagi. Sibuk sih. Pergi pagi pulang malam te...