Sunday, December 22, 2013

Untuk Ibu

Helai rambut memutih,jemari bergetar,tatap matapun lelah. Dan bila kaki melangkah semakin berlahan, tak pernah kau merasa letih.

Malah senyum lembutmu tetap kau berikan,dari waktu ku ditimang hingga sampai saat ini. Begitu banyak cinta kau taburkan,lebih dari bintang dilangit. Begitu luhur ilmu kau tanamkan, mengisi jiwaku, untuk bekal hidup ini. Begitu dalam laut disamudra, tak sedalam perhatianmu untuku. Begitu tinggi burung diangkasa, tak lebih tinggi dari rasa hormatku pada dirimu.

Ku tempatkan namamu diatas segalanya, terukir dalam hati ini.


SELAMAT HARI IBU
(22 DESEMBER)

"Every mother gave birth to a child. But not my mother. She gave birth to a legend. Thx, mom."

Friday, December 20, 2013

I Wish Everyday Could Be Like Christmas

What time is it? Is it that time again? When snow will be falling, friends will be calling. You know it's time when, there'll be carolers singing Silent Night. I love when they sing, the feeling it brings , it's warm as a fire is bright. Soon there'll be toys for good girls and boys, and reindeer are heading our way. Yes, and Santa will come down the chimney above. There's one thing I wanted to say.

I wish every day could be like Christmas. And if I could have one wish come true, I wish every day could be full of peace and harmony.

I saw a child sit with old Mr. Clause, looked him in the eye and he asked old Santa what peace on earth was. Now the old man grew cautious, on how he would say. That it's the greatest gift what you could give, every day.

Now the mistle-toe and the house aglow. All the world seems at ease tonight. And all that I ask when these precious moments pass, is why can't every day be so bright..?


Tuesday, October 8, 2013

... Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu. (Kej 3:19)

Sabtu, 5 Oktober 2013

Pagi itu, aku melangkahkan kaki dengan lemas setelah turun dari kendaraan yang kukendarai menuju tempat kuliahku. Ya, pagi itu memang pikiranku sedang tidak menentu. Terbebani oleh tugas, ulangan mid, kulaih tambahan, ditambah hanya mendapat jatah tidur 3 jam malam sebelumnya.

Kelas pertama adalah ujian mid semester untuk mata kuliah Kebanksentralan, dilanjutkan dua sesi kuliah tambahan untuk mata kuliah Metode Penelitian.

*****

Pagi itu, aku terbangun dengan kabar bahwa nenekku mengalami kecelakaan dalam perjalanannya menuju Gereja St. Fransiskus Asisi untuk menjalani misa harian seperti hari-hari biasanya. Di dalam kamar, hanya bisa mendengar dengan pasrah. Tak bisa tertidur, kuputuskan untuk mempercepat aktivitasku hari itu. Segera ku bersiap untuk berangkat kuliah.

*****

Pelajaran Metode Penelitian pun tak bisa kuikuti dengan lancar karena kantuk berat yang melanda akibat kurang tidur karena mengerjakan tugas untuk mata kuliah ini. Apa yang dikatakan dosen hampir tidak bisa kumengerti sama sekali, hanya sedikit yang kutangkap, yaitu analisis BLUE.

Istirahat pergantian sesi. Sekitar pukul 10 pagi itu, mendapat kabar kalau nenekku sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Cemas, panik, bingung, tidak tahu harus apa, hanya bisa pasrah. Namun, tak satupun air mata menitik.

*****

Sore itu, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Cengkareng. Segera memesan taksi untuk mengantarkan kami ke rumah duka. Ya, memang  beliau (alm) pernah berpesan, bahwa ia tidak ingin jenazahnya ditaruh di rumah, melainkan di rumah duka.

Setibanya di rumah duka, tangis tak terbendung. Air mata yang sedari pagi tak menetes, akhirnya jatuh juga. Terbayang senyumannya, terngiang suaranya, logatnya yang khas, dan segala detil yang memang sudah menjadi ciri khasnya, semua tentangnya yang akan kurindukan seumur hidupku.

Engkau begitu cantik malam itu. Dengan pakaian terbaik yang memang telah engkau siapkan untuk menghadap Sang Pencipta. Dengan karangan bunga yang menghias di sekelilingmu. 

Selamat jalan, eyang. Terima kasih atas segala kasih sayang dan perhatian yang engkau berikan untukku. Semoga eyang bisa beristirahat dalam damai di sana. Semoga mendapatkan tempat yang terbaik di sisiNya. Salam sayang dari cucu pertamamu yang begitu merindukanmu.

*********************************
"I am the resurrection, and the life: he that believeth in Me, though he were dead, yet shall he live." (John 11:25)
"Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25)
"In the sweat of thy face shalt thou eat bread, till thou return unto the ground; for out of it wast thou taken: for dust thou art, and unto dust shalt thou return." (Genesis 3:19)
"Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." (Kejadian 3:19)
*********************************
"As her body lies still and the ending draws near, spirit rises through the air, all her fears disappears, it all becomes clear. A blinding light comes into view, an old soul exchanged for a new. Familiar voice comes shining through. We'll meet again, someday. Soon."
********************************* 
In Memoriam, Eyang
1944-2013

Monday, September 16, 2013

Under You

Along the edges colors blur, it seems familiar
While you read your magazine
I was counting all the markers

And California seemed to draw you like a siren
From a postcard
In a letter
Or a frame of film melting

Under you, I feel your breath move in and out slowly
Under you, let go completely feeling you take over me
Take over me

A Hollywood flat where we'd laugh about our fortunes
Where we held jobs in this bar down at 3rd and San Vicente
And Ramen Noodles at 4:30 in the morning,
Where we barely could survive, I was never more alive

Under you, I feel your blood flowing out slowly
Under you, let go completely feeling you take over me
Take over me

You moved in slow degrees
A sudden memory
You're a Leonard Cohen song

But every now and then I'd swear
I see you standing
On a sidewalk,
In a restaurant,
From a taxi passing by

Under you, I feel your breath move in, out slowly
Under you, let go completely, feeling you take over me

Take over me...

Friday, August 2, 2013

Mulailah dari Diri Sendiri

Oke... Mulai lagi hari ini blogging. Menghilangkan kejenuhan selama liburan alih semester dari genap ke ganjil (yang kuliah pasti tau berapa lamanya liburan alih semester yang satu ini). Sebenernya udah lama pengen blogging, cuman belom dapet ide mau nulis apa. Udah dapet sih sebenernya, cuman gak tau cara nuanginnya.

Oke lah, tanpa basa basi, kita mulai artikel kita kali ini.

Sekedar intermezzo. Barusan, pagi ini gue baca soal kasus "Anak Jendral" dari website Kompas, beritanya masih anget, kok, cari aja pake keyword anak jendral. Inti ceritanya gini, tuh anak bawa mobil Jazz, nerobos masuk ke jalur busway yang saat itu dikasih portal untuk menghindari pengendara non TransJakarta agar memasuki jalur busway. Sang pengemudi tersebut minta dibukain portalnya, bahkan bilang kalau dia adalah anak seorang jendral polisi. WTF, dude..?

Oke, balik ke topik yang belum ditetapkan di awal. Entah ada apa dengan kelakuan orang Indonesia dalam berkendara dengan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun empat. Mereka seolah-olah mengenyampingkan keselamatan demi waktu yang singkat. Contohnya aja, pengendara motor yang menerobos lampu merah, pengendara mobil yang memilih menjalankan mobilnya berlawanan arah dengan jalur yang ada.

Oke, di sini gue gak ngomongin tentang yang ngebut, melainkan tentang kelengkapan keselamatan, dan penaatan peraturan. Karena ngebut pun bisa selamat asal mereka patuh. Oh iya, bedakan ngebut dengan ugal-ugalan ya. Ngebut belum tentu ugal-ugalan, dan ugal-ugalan udah pasti ngebut. Gitu aja.

Pertama, kelengkapan.
Banyak pengendara yang meremehkan ini. Banyak yang mengesampingkan fungsi helm, kaca spion, lampu belok (lampu sen), dan lain sebagainya. Kita ambil beberapa saja untuk contoh, cukup 1, yakni lampu depan. Yang saya tahu, lampu depan itu sudah dibuat sedemikian rupa agar tidak menyilaukan pengendara yang berlainan arah, dan juga tidak terlalu gelap agar kita masih bisa mengetahui medan jalan. Yang parah, lampu depan sering diganti dengan warna putih, memang terang, keren, dsb, tapi itu menyilaukan, bung. Seharusnya kalian melihat ke arah lampu tersebut secara langsung sebelum memasangnya untuk mengetahui seberapa silaunya lamputersebut. Kemudian, ada juga yang malah mematikan lampu depan. Ini kalo nabrak, biasanya gak mau ngaku mereka, tetep aja membenarkan diri, padahal kita gak tau kalo ada mereka karena mereka gak kasih tanda kehadriran mereka.

Kedua, rambu-rambu.
Dari TK kita diajari mengenai rambu-rambu lalu lintas, sampai sekarang pun sepertinya banyak yang belum bisa memahami maksud dari rambu tersebut. Untuk rambu yang menggunakan tiang, ada beberapa cara mudah membedakannya:
  • Warna merah: berarti larangan. Apapun rambu yang mengandung warna merah berarti larangan. Bentuk yang umum untuk rambu ini biasanya bulat.
  • Warna kuning: berarti peringatan agar kita untuk berhati-hati. Bentuk umum biasanya segitiga.
  • warna biru: biasanya memberitahu kita bahwa di tempat ini dibolehkan untuk memutar, belok, dsb. Bentuk rambu ini umumnya peregi.
Kemudian, ada juga lampu lalu-lintas yang secara umum terdri dari 3 warna, yakni Merah, kuning, dan hijau. Seperti yang kita ketahui dari kta TK (SD untuk para pembaca yang tidak melalui TK; dari orang lain untuk para pembaca yang, maaf, belum menempuh pendidikan formal), merah berarti berhenti, kuning berarti hati-hati, dan hijau berarti kita boleh jalan. Berdasarkan studi lapangan yang gue lakukan secara berkala, sekarang merah berarti boleh jalan selama baru 1-2 detik atau sebelah kanan kita seudah berhenti meski kita masih merah; sedangkan kuning berarti tancap gas sekuat mungkin sebelum berubah menjadi merah; dan hanya hijau yang masih tetap pada arti sebelunya, yakni boleh jalan. Apa salahnya kita menunggu 1-5 detik agar lampu berubah menjadi hijau untuk meyakinkan kalau benar-benar aman..?

Pernah gue liat sama mata kepala sendiri, ibu-ibu patah tangan gara-gara anaknya (dia dibonceng anaknya) menerobos lampu merah. Gue cuman bisa geleng-geleng kepala aja. Dan untuk gue pribadi, gue lebih baik nunggu sampai lampu berubah menjadi hijau meski diklakson pengendara di belakang gue daripada gue mesti menerobos lampu yang belom ijo. Pernah dia sampe marah-marah, gue cuek aja, lampu ijo baru gue cabut.

Oh iya, lampu tersebut gak berlaku ketika lalu-lintas diatur oleh polisi, dan sedang ada kendaraan darurat (ambulans, pemadam kebakaran, atau mobil polisi) yang membunikan sirene; kita harus mendahulukan kendaraan tersebut meski kendaraan tersebut jalurnya sedang lampu merah dan kita hijau, kita yang mengalah demi keselamatan orang lain.

Praktisnya, dengan melanggar, kita telah sadar akan konsekuensi kita jika terjadi kecelakaan. Dengan melanggar dan memang terjadi kecelakaan, kita tidak serta merta langsung menuduh pengendara yang menabrak kita itu salah, karena bisa saja mereka nabrak kita karena kesalahan kita sendiri.

Tuesday, July 2, 2013

The Six Degrees Pt.3: Explanation

Well, setelah membaca artikel sebelumnya, kali ini datanglah artikel yang akan menjelaskan maksud dari lagu Six Degrees of Inner Turbulence.......satu per satu.



Oke, dimulai dari Overture.
Menurut kamus, Overture berarti musik pembuka. Ya, seperti musik pembuka lainnya, tidak mengandung arti khusus dalam lagu ini, hanya sebagai intro. Musik orkestra dipiih mereka sebagai intro, ini menambah kesan "wah" pada lagu tersebut.

Selanjutnya adalah About To Crash.
Lagu ini menceritakan seorang perempuan yang memiliki kelainan mental berupa bipolar. Bipolar merupakan kelainan mental yang mengacu pada perubahan suasana hati seseorang dari senang (mania) ke sedih (depresi) secara ekstrim, atau sebaliknya.
"She can't stop pacing, she never felt so alive, her thoughts are racing, set on overdrive" menandakan ketika ia sedang bahagia, dan kesedihan ekstremnya ditandai dengan "Then one day she woke up to find a perfect girl has lost her mind". Sedangkan untuk "He helplessly stands by, it's meaningless to try......" merupakan perwakilan perasaan dari sang ayah (diketahui dari "She was raised in a small midwestern town by a charming and eccentric loving father") ketika kelainan anaknya semakin bertambah buruk.

War Inside My Head bercerita tentang post-traumatic stress disorder (PTSD) yang biasa diderita oleh tentara yang pernah ikut berperang. Diceritakan di lagu ini seorang veteran perang Vietnam ("Napalm showers" merujuk ke perang Vietnam). Liriknya sendiri pun sudah menjelaskan keadaan perang yang dialaminya.

Yang keempat adalah The Test That Stumped Them All. Lagu ini menceritakan tentang skizofrenia,  gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal kognitif, emosional dan tingkah laku.yang sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). "The boy is simply crazy / Suffering from delusion ... He lives in a world of fiction." lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa lagu ini memang menggambarkan seseorang yang menderita skizofrenia.



Kemudian ada Goodnight Kiss yang menceritakan tentang post-partum depression atau depresi pasca melahirkan. Depresi ini biasanya muncul ketika seseorang melahirkan, namun bayi yang dilahirkan tidak selamat ("Are you lonely without mommy's love..?" dan "I'm so lonely without baby's love"). Parahnya lagi, dalam lagu ini, penderita bukan hanya sekali mengalaminya, namun (setidaknya) dua kali.

"It's been five years to the day and my tainted blood's still the same. Can't help acting this way and those bastards doctors are gonna pay". Dijelaskan bahwa ia sudah dua kali kehilangan bayinya, dan itu (mungkin) karena kesalahan dokter yang menanganinya jika dilihat dari sisi penderita. Didukung juga oleh suara tawa pria dan tangis perempuan pada lagu untuk bagian ini.

Seolah tanpa terputus, lagu terus berlanjut ke bagian enam, Solitary Shell. Lagu ini bercerita tentang sindrom Asperger, yang merupakan salah satu gejala dari autisme. Namun, sindrom ini sendiri berbeda dengan autisme karena kemampuan linguistik dan kognitif para penderitanya yang relatif tidak mengalami penurunan, bahkan dengan IQ yang relatif tinggi atau rata-rata. Salah satu gejala sindrom ini adalah cenderung memiliki kesulitan untuk memahami bentuk-bentuk komunikasi non-verbal serta kata-kata yang memiliki banyak arti, juga cenderung mengurung diri ("He learned to walk and talk on time, but never care much to be held. And steadily he would decline into his solitary shell. As a boy he was considered somewhat odd, captured himself most of the time."). Pada bagian akhir lagu, diceritakan bahwa keluarganya mulai memintanya untuk terbuka ("When will he be led out of his solitary shell?").

Bagian ke tujuh, About To Crash (Reprise), merupakan lanjutan dari bagian sebelumnya, About To Crash. Pada bagian ini diceritakan bahwa dia sedang dalam keadaan mania ("I'm alive again, darkness far behind me. I'm invincible, despair will never find me. I feel strong, I've got a new sense of elation, boundless energy, euphoria fixation") namun tiba-tiba menjadi depresi ("Still it's hard just to get by, seems so meaningless to try when all I want to do is cry. Who would ever knew I felt so sad dst...")

Terakhir, adalah Losing Time/Grand Finale.
Pemberian garis miring tersebut sebenarnya mengartikan bahwa bagian ini ada 2 sub judul, yakni Losing Time  dan Grand Finale.

  1. Losing Time bercerita tentang gangguan mental identitas disasosiatf atau pemecah kepribadian, atau sering kita sebut dengan istilah alter ego. Lagu ini menunjukkan bahwa ia merasa ia bukanlah bagian dari hidupnya yang nantinya menyiratkan bahwa ia telah kehilangan waktu hidupnya. Dalam lagu ini juga diceritakan bagian tergepal dari penderita gangguan ini adalah ia membuat kepribadian alternatif untuk mengatasi segala masalah yang dideritanya ("She learned to detached from herself, a behavior that kept her alive" / Ia belajar untuk lepas dari dirinya, sebuah kebiasaan yang membuatnya tetap hidup).
  2. Grand Finale merupakan sebuah kesimpulan dari seluruh lagu, dibuat agar pendengar lebih memahami makna lagu. Deception of fame (The Test That Stumped Them All), vengeance of war (War Inside My Head), lives torn apart (Goodnight Kiss), losing oneself (Losing Time), spiraling down (About To Crash dan About To Crash (Reprise)), feeling the walls closing in (Solitary Shell). Ditutup dengan "A journey to find the answers inside of our elusive minds" (perjalanan untuk menemukan jawaban dari pemikiran kita yang sulit dipahami).

"Hope in the face of our human distress helps us to understands the turbulence deep inside that takes hopes of our lives.
Shame and disgrace over mental unrest keeps us from saving those we love, the grace within our hearts, and the sorrow in our soul."
Six Degrees of Inner Turbulence: VIII. Losing Time/Grand Finale by Dream Theater


Source:

The Six Degrees Pt.2: Lyric


I. OVERTURE
[instrumental]

II. ABOUT TO CRASH
She can't stop pacing
She never felt so alive
Her thoughts are racing
Set on overdrive

It takes a village
That she knows is true
They're expecting her
And she's got work to do

He helplessly stands by
It's meaningless to try
As he rubs his red-rimmed eyes
He says I've never seen her get this bad

Even though she seems so high
He knows that she can't fly
And when she falls out of the sky
He'll be standing by

She was raised in a small midwestern town
By a charming and eccentric loving father
She was praised as the perfect teenage girl
And everyone thought highly of her

And she tried everyday
With endless drive
To make the grade
Then one day
She woke up to find
The perfect girl
Had lost her mind

Once barely taking a break
Now she sleeps the days away
She helplessly stands by
It's meaningless to try
All she wants to do is cry
No one ever knew she was so sad

Cause even though she gets so high
And thinks that she can fly
She will fall out of the sky
But in the face of misery
She found hopefulness
Feeling better
She had weathered
This depression

Much to her advantage
She resumed her frantic pace
Boundless power
Midnight hour
She enjoyed the race

III. WAR INSIDE MY HEAD
Napalm showers
Showed the cowards
We weren't there to mess around

Through heat exhaustion
And mind distortion
A military victory mounted on innocent ground

Hearing voices from miles away...
(Saying things never said)
Seeing shadows in the light of the day...
(Waging a war inside my head)

Years and years of
Bloodshed and warfare
Our mission was only to get in and kill

A free vacation
Of palmtrees and shrapnel
Trading innocence for permanent psychotic hell

Hearing voices from miles away...
(Saying things never said)
Seeing shadows in the light of the day...
(Waging a war inside my head)

Feeling strangers staring my way...
(Reading minds never read)
Tasting danger with each word I say...
(Waging a war inside my...)

IV. THE TEST THAT STUMPED THEM ALL
Standing in the darkness
Waiting for the light
The smell of pure adrenaline
Burning in the night

Random blinding flashes
Aiming at the stage
Intro tape begins to roll
Igniting sonic rage

Still they keep me between these hollow walls
Hoping to find in me the answers to the test that stumped them all

The boy is simply crazy
(Suffering from delusions)
We honestly think that maybe
(He might need an institution)

He lives in a world of fiction
(And really could use some help)
We have just the place to fix him
To save him from himself

Curled up in the darkness
Searching for the light
The smell of stale sweat and shit
Streaming through the night

Random urine testing
Pills red, pink and blue
Counseling and therapy
Providing not a clue

Still they keep me between these hollow walls
Hoping to find in me the answers to the test that stumped them all

We can't seem to find the answers
(He seemed such a clear cut case)
We cannot just let him leave here
(And put all this work to waste)

Why don't we try shock treatment
(It really might do some help)
We have just the tools to fix him
To save him from himself

V. GOODNIGHT KISS
Goodnight kiss in your nightgown
Lavender in your bed
So innocent as you lie down
Sweet dreams that run through your head

Are you lonely without Mommy's love?
I want you to know I'd die for that moment
You're just a poor girl
Afraid of this cruel world
Taken away from it all

It's been 5 years to the day and
My tainted blood's still the same
I can't help acting this way and
Those bastard doctors are gonna pay

I'm so lonely without baby's love
I want you to know I'd die for one more moment
I'm just a poor girl
Afraid of this cruel world
Taken away from it all

VI. SOLITARY SHELL
He seemed no different from the rest
Just a healthy normal boy
His mama always did her best
And he was daddy's pride and joy

He learned to walk and talk on time
But never cared much to be held
And steadily he would decline
Into his solitary shell

As a boy he was considered somewhat odd
Kept to himself most of the time
He would daydream in and out of his own world
But in every other way he was fine

He's a Monday morning lunatic
Disturbed from time to time
Lost within himself
In his solitary shell

A temporary catatonic
Madman on occasion
When will he break out
Of his solitary shell

He struggled to get through his day
He was helplessly behind
He poured himself onto the page
Writing for hours at a time

As a man he was a danger to himself
Fearful and sad most of the time
He was drifting in and out of sanity
But in every other way he was fine

He's a Monday morning lunatic
Disturbed from time to time
Lost within himself
In his solitary shell

A momentary maniac
With casual delusions
When will he be let out
Of his solitary shell

VII. ABOUT TO CRASH (REPRISE)
I'm alive again
The darkness far behind me
I'm invincible
Despair will never find me

I feel strong
I've got a new sense of elation
Boundless energy
Euphoria fixation

Still it's hard to just get by
It seems so meaningless to try
When all I want to do is cry
Who would ever know I felt so sad

Even though I get so high
I know that I will never fly
And when I fall out of the sky
Who'll be standing by..?

Will you be standing by..?

VIII. LOSING TIME/GRAND FINALE
She dresses in black everyday
She keeps her hair simple and plain
She never wears makeup
But no one would care if she did anyway

She doesn't recall yesterday
Faces seem twisted and strange
But she always wakes up
Only to find she'd been miles away

Absence of awareness
Losing time
A lapse of perception
Losing time

Wanting to escape
She had created a way to survive
She learned to detach from herself
A behavior that kept her alive

Hope in the face of our human distress
Helps us to understand the turbulence deep inside that takes hold of our lives

Shame and disgrace over mental unrest
Keeps us from saving those we love, the grace within our hearts, and the sorrow in our souls

Deception of fame
Vengeance of war
Lives torn apart
Losing oneself
Spiraling down
Feeling the walls closing in

A journey to find the answers inside of our illusive mind...


This House Is Not For Sale Review: II. Track by Track (Reg)

Jakarta, 18 Mei 2017 Jarak antara Part satu  dan Part dua lumayan jauh. Yaaaaa.... gimana lagi. Sibuk sih. Pergi pagi pulang malam te...