Pasca liburan ke Bandung kemaren (baca: BDG 04 JNR), dorongan untuk liburan rame-rame semakin kuat. Ada rasa
tersendiri ketika liburan lepas dari orang tua. Rencana-rencana mulai
bermunculan, seperti ke Bali, Bromo, Rinjani, hingga ke Sabang. Semua sudah
diatur perincian biayanya, tinggal eksekusinya saja.
Liburan kali ini, awalnya gak ada ide sama
sekali untuk mengunjungi tempat ini. Ide malah muncul untuk mengunjungi Gn
Bromo pada Agustus 2014 ini. Semua data yg diperlukan sudah siap, tinggal
pelaksanaan. Namun halangan datang dari salah satu teman yang tidak bisa ikut
lantas ingin liburan ke Thailand pada tanggal tersebut. Jadi, rencana dimajukan
menjadi setelah ujian semester.
Dirasa tidak memungkinkan untuk mengumpulkan
dana yang sedemikian besar, target dirubah menjadi Jogjakarta. Ada beberapa
laporan tidak enak mengenai Jogjakarta, dimundurkan ke Bandung. Entah kenapa,
tetap tidak lepas dari masalah. Beberapa peserta perempuan memberikan respons
yang tidak mengenakkan untuk liburan di Pulau Jawa, beralasan tidak
diperbolehkan orang tua. Mendekati keputusan untuk cancel, tercetus ide dari Dwi,
ngajak ke Pagaralam. Respons positif dari semua peserta kecuali satu yang mau
ke Thailand tadi. Jadilah kami ber-7 ke Pagaralam.
Bisa dibilang liburan ini di luar rencana,
karena kami tidak mempersiapkan keuangan, dengan iming-imingan pengeluaran circa IDR 500k, kami pergi ke Pagaralam.
Jumat, 23 Mei 2014: Last Day of The 6th
Semester
Selesai UAS (hari terakhir UAS), tiket
dipesan. Moda transportasi dipilih kali ini adalah travel. Menggunakan jasa
travel oleh Dharma Karya, dengan harga tiket + IDR
110k sekali jalan per orang. Hujan deras tak menyusutkan niat kami membeli
tiket. Mengitari kota Palembang mencari loket sang agen travel, dari KM 8
hingga ke daerah Demang Lebar Daun. Titik penjemputan dipilih di rumah Didik di
sekitaran Perintis Kemerdekaan.
Sabtu, 24 Mei 2014: My Own Story
Nothing's special on this day. Just
another crazy Saturday nite with Kuartet Laponta (cerita bisa di klik di sini).
Minggu, 25 Mei 2014: Preparation Day
Persiapan dimulai. Packing... Packing...
Dan packing. Malam itu, muncul kabar salah satu peserta cancel. F*ck
dalam hati gue. Baru pulang beli sabun dll, dapet kabar gini. Gue sempet
uring-uringan. Dan ternyata kabar itu cuman bercanda. Bad joke. Bad fucking
joke.
Senin, 26 Mei 2014: The Trip Begin
Dan perjalanan pun dimulai. Rencana gue
dijemput jam 7 pagi, daaan ternyata ngaret. Gue udah nunggu dari jam 6 pagi.
Udah susah tidur malemnya. Dan rasanya semua udah pada tau gue sedikit anti
dengan yang namanya ngaret.
Oke, gue dijemput Ecak, ngumpul di rumah
Ecak. Sementara travel mulai dari rumah Didik, baru ke rumah Ecak, back to
loket untuk pelunasan, dan menjemput Indah. After than off we go.
Perjalanan dimulai sekitar pukul 10 pagi
dari rumah Indah. Memakan waktu sekitar 7 jam perjalanan. Melewati jalan yang
menakjubkan yang melintasi pegunungan Bukit Barisan. Pada bilang jalannya
seram, but, gak gitu serem sih. Gue sih ya enjoy aja. Hahaha.
Pukul 17:30 WIB memasuki kota Pagaralam,
berhenti sebentar di Indomaret untuk membeli beberapa kebutuhan hidup seperti
air minum, snack, de el el. Ada perbedaan antara Pagaralam dengan Palembang.
Salah satunya adalah udara. Ya, udara di sini dingin khas wilayah di kaki
gunung, tidak seperti Palembang yang saat itu sedang panas-panasnya. Oke,
lanjut ke penginapan.
Untuk urusan penginapan, sudah dipilih
Villa Besemah di daerah perkantoran PemKot Pagaralam dan dekat lokasi MTQ ke
berapa gue lupa. Yang pasti, berada di kaki Gunung Dempo, ikon Pagaralam.
Ada sedikit miskomunikasi tentang
penginapan, sehingga hanya bisa satu malam di villa tersebut, dan harus pindah
esok harinya ke unit villa yang lain. Oke, at least, malam ini bisa meluruskan
kaki sejenak. Masalah sinyal, agak sedikit mengganggu, ada sedikit posisi di
mana sinyal sangat kuat, dan begitu bergeser sedikit, kualitas sinyal menurun
drastis. But. gak masalah. Kita datang untuk liburan, kan..?
Urusan makan malam, karena begitu lelah,
kami pilih makan di kantin villa. Hidangan standar, mie kuah, mie goreng, nasi
ayam, nasi ikan, nasi goreng, dll. Berhubung malam, gue pilih mie rebus.
Angeeeet.
Oh iya, sedikit tambahan, tadi di
perjalanan, sang supir membawa kami melewati “jalan pintas” yang katanya lebih
cepat untuk mencapai Pagaralam. Jalannya lumayan kecil, kiri-kanan kebun kopi
(kata temen, gue gak tau pohon kopi soalnya), dan sering diselingi dengan
jurang-jurang. Tak jarang ditemui aliran sungai Lematang yang biasa dijadikan
tempat untuk berarung jeram. Daaan kami juga sempat berhenti di situs
peninggalan purbakala, entah situs apa namanya. Mungkin situs Si Pahit Lidah.
Entahlah.
Selasa, 27 Mei 2014: Pindah Villa
Hari pertama di Pagaralam, diisi dengan
jalan-jalan di sekitar komplek villa. Dimulai dengan mendaki kaki gunung Dempo
(aka kebun teh). Baru kali ini gue masuk ke kebun teh. Lumayan asik.
Naik sekitar 2 bukit, kemudian turun lagi
karena diajak turun buat nyari sarapan. Oke, kita turun. Oh iya, selama naik
dan turun di kebun teh, banyak masyarakat sekitar yang naik ke atas untuk
mengurusi kebun teh milik PTPN tersebut. Kebanyakan dari mereka mengendarai
motor keluaran taun 90an. Gue salut sama motor jaman dulu, mesinnya gila
banget, masih kuat buat naek gunung.
Oke, lanjut cerita.Kita turun nyari
sarapan. Rombongan cewek dan cowok pisah. Yang cewek makan di kantin villa,
yang cowok turun lagi ke bawah. Gue ikut rombongan cowok lah. Rugi donk kalo
liburan maen di deket-deket villa aja.
Turun ke pemukiman penduduk (serasa
tinggal jauh dari pemukiman), nyari-nyari sarapan gak ketemu. Susah, belom ada
yang buka. Akhirnya, nemu juga, mie ayam dam sejenisnya. Setelah turun sekian
jauh, akhirnya ada juga yang jualan. Langsung pesen mie ayam. Dan kebetulan ada
gorengan, langsung comot aja lah. Laper.
Selesai makan, balik lagi ke villa. Satu
yang gak gue sangka, ternyata sarapan tadi sia-sia. Kenapa..? Karena jalannya
itu, nanjaaaak pake banget. Kemiringan sekitar 450 mungkin. Tadi
turun sih gak berasa, naiknya itu lho...Daaan setibanya di komplek villa, masih
harus naik lagi karena memang posisi villa pilihan kami berada di posisi yang
paling atas. Damn.
Tiba di villa, baju basah, dingin tetap
gak mempengaruhi keringat gue yang keluar buat mendinginkan badan yang lelah
sehabis “perjuangan” tadi. Daaan rombongan cewek pun masuk ke villa. Ya,
sekedar mengakrabkan diri dengan bermain kartu dan sebagainya.
Gak lama gue ditelpon sang empunya villa
buat segera pindah. Kembali memberesi barang bawaan, kasur, seprei dan
sejenisnya untuk segera pindah villa. Ya, pindah villa. Pindah villa ke bawah,
masih satu komplek, tapi posisinya agak ke bawah. Sekjedar informasi, villa yg
ini besar, tipe karaoke kalo kata petugas sekitar, dengan 1 kamar mandi (2
sebenarnya, tapi 1 rusak), dan 1 kamar tidur, serta 1 ruang tamu besar. Sudah
bisa ditebak kami tidur di mana. Hehehe.
Yahhh, hari itu seterusnya hingga malam
berlangsung biasa saja. Diselingi dengan main kartu dan sebagainya. Dan kamipun
beristirahat mengumpulkan tenaga untuk besok.
Malamnya, gak lupa minta satu termos air
panas untuk ngopi. Ya, ngopi. Hujan gerimis, naik ke kantin villa minta air
panas. Satu yang bikin gue takjub, jalannya GAK KELIATAN. Ketutupan kabut..!
Mungkin tepatnya awan ya. Jarak pandang mungkin cuman sekitar 3 meter ya.
Rabu, 28 Mei 2014: Di Bawah Sang Mega
Hari yang ditentukan pun tiba. Hari ini
jadwal memang direncanakan padat. Rencana hari ini kami akan mengunjungi
beberapa situs wisata di Pagaralam yang sudah direncanakan kemarin pas makan
sore. Antara lain Cughup Embun, Cughup Mangkok, Tugu Rimau, Tangga 2001 (atau
Tangga 1000, mana yg bener gak tau), dan me tempat penjualan oleh-oleh.
Mobil yang disewa untuk mengantar
bepergian pun tiba. Tujuan pertama adalah kota Pagaralam, untuk mencari
oleh-oleh dan makan siang nanti. Dengan cekatan, sang supir (yang notabene
adalah penunggu villa) membawa kami ke pasar, terminal, dan sebagainya untuk
mencari oleh-oleh dan makan siang.
Selesai mencari oleh-oleh, langsung
diantar menuju Cughup Embun. Cughup itu adalah air terjun dalam bahasa lokal
Pagaralam. Bisa dibilang Curup, tapi orang asli Pagaralam itu berlidah cadel,
mereka tidak bisa mengeja huruf R dengan benar, jadilah cughup instead of curup.
Tiba ti tujuan, kita tidak langsung
disuguhi pemandangan air terjun, melainkan harus turun sekian puluh anak tangga
dan berjalan sekian ratus meter untuk dapat melihat air terjun. Tapi, you know, it was worth it. Setiba di tujuan, tampaklah 3 air terjun berjejer,
ya teman, itulah Curup Embun. LET’S GET WET..!!!
Selesai menikmati air terjun, kami mencari
spot untuk makan siang. Banyak
mencari di bawah pohon, tapi gue dan Dwi memilih di tengah “jembatan” (gak bisa
dibilang jembatan sih, tanggul mungkin tepatnya) yang berhadapan langsung
dengan sang air terjun. Makan siang paling nikmat dalam hidup gue. Nasi
Rendang, disuguhi pemandangan air terjun.
Daaan setelah menikmati sang air terjun,
lagi-lagi harus mendaki... Ya, mendaki puluhan tangga tadi. Kerja keras betis
gue hari itu. Paginya, sarapan di tempat yang sama di bawah pemukiman, siangnya
mendaki lagi. Komplit. Tapi gue nikmati, karena memang gak tiap hari gue bisa
menikmati yang kayak gini.
Lanjut. Rencana ke Cughup Mangkok pun
batal karena ada sedikit masalah tempat sholat. Entah Musholanya kenapa gue gak
tau, padahal sudah di depan Cughup Mangkok, tinggal turunin mobil aja. So, ya
udah, back to the villa.
Selesai sholat dll, lanjut perjalanan ke
Tugu Rimau. Untuk informasi, Tugu Rimau adalah titik tertinggi di Gunung Dempo
yang dapat dicapai dengan mobil. Kebanyakan pendaki memulai pendakian dari tugu
ini. Dan sesuai namanya, di Tugu Rimau ada patung Rimau, sang ikon PON XVI di
SumSel 10 tahun silam. Dari sini, kelihatan kota Pagaralam dan segala isinya.
Kebun teh. Serta jalur berliku yang tadi dilalui untuk mencapai tempat ini. Dingiiin
yang pasti.
Gak berlama-lama di sini, karena awan
mulai turun, takut jalanan gak keliatan, kita pun turun ke bawah, menuju Tangga
2001 atau Tangga 1000 atau apalah itu. Letaknya di pemukiman di bawah villa, di
tengah-tengah kebun teh. Gue, Didik, dan Dwi di sini nyoba ngitung ada berapa
anak tangga yang ada di sini. Hasilnya..? Tangganya cuman ada 126 anak tangga
kiri dan kanan. Gue diketawain semua orang yang ada di situ karena ngitung tuh
anak tangga dari ujung ke ujung. Yahhh, bisa dibilang hari itu kaki gue
bener-bener bergerak. Hahaha.
Selesai dari situ, langsung ke bawah, ke
kota Pagaralam untuk mencari makan malam dan bekal besok di jalan. Kemudian
kembali ke villa untuk tidur istirahat.
Kamis, 29 Mei 2014: See Ya, Pagaralam...
Pagi itu, sekitar pukul setengah 5 pagi,
situasi darurat terjadi. Perut gue gak bisa diajak kompromi. Mau buang di
villa, tapi air habis. Jadi ya terpaksa buang di toilet kantin. Setengah 5,
sendirian gue ke kantin. Gelep yang pasti. Kantin gelap, hanya lampu toilet
yang hidup. Well, entah kuping gue yang bermasalah, tapi gue denger ada
aktivitas di dapur kantin sewaktu gue melakukan kewajiban gue pagi itu. Selesai
dari situ, gue cek dapur kantin, kosong gak ada apa-apa. Dan ini emang gue
belom cerita ke yang lain sampe sekarang, but ini beneran, gue gak bohong.
Oke, kembali ke villa. Semua masih pada
tidur. Gue cek-cek lagi, re-packing, dan sarapan di kantin dengan mie instan
lagi. Mandi..? Udahn donk, tadi sekalian di toilet kantin. Hahaha.
Jam stgh 9 travel sudah menjemput. Dan ada
satu orang yang harus pisah travel karena gak muat. Dan ditengah jalan menuju
travel, sang supir menjemput teman supirnya dari travel lain.
Daaaan.......(katanya) MIRIP GUE. Ckckck. Ada orang yang mirip gue. Hadeeeehhh.
Perjalanan pulang kali ini beda rute
dengan perjalanan berangkat kemaren. Kali ini kita lewat pinggiran sungai
Lematang, dan gue sempet liat, meski sekilas, Cughup Lematang yang katanya
paling tinggi se-Pagaralam. Yang lain sih gak liat. Kasian deh. Hahaha.
Karena sudah lelah, perjalanan pulang
tidak seberisik berangkatnya. Banyak yang K.O. (baca: tidur). Sementara gue
sendiri sulit tidur karena posisi duduk gue di depan dan supir travel ini
memang sedikit “nekat”.
Sampai jumpa Pagaralam. Mungkin
kapan-kapan bisa ke situ lagi, menjernihkan pikiran dan paru-paru. Menjauhkan
diri dari suasana kota. Memasuki suasana kaki gunung yang tenang.
Dan berikut beberapa hal yang menarik
selama di Pagaralam:
- Dari sisi udara, jelas jauh dengan Palembang. Kualitas udara di sini tidak sekotor Palembang.
- Suhu, dingin, tapi tidak sedingin ketika gue ke Bandung Januari kemarin. Entah pengaruh musim atau apa.
- Kalau malam itu hujan, jarak pandang cuman 3 meter. Gue gak bohong. Pohon segede gambreng di depan villa gak keliatan.
- Dan di liburan kali ini, gue kurang bisa menikmati liburan. Udah gue usahain semampu gue, tapi tetep gak bisa to the max. But, I enjoy it.
So, terimakasih buat: Dwi, Didik, Afin,
Marlina, Ecak, Anis, dan Indah yang mau meluangkan waktu untuk pergi ke
Pagaralam, meski melenceng jauh dari tujuan sebelumnya (Bromo). Dan semoga
kalian gak kecewa dengan liburan ini. Sekian tahun gue penasaran sama tempat
ini, akhirnya kesampaian juga.
TERIMA KASIH
===========================================
PICTURE INCOMING
No comments:
Post a Comment